Tampilkan postingan dengan label puisi or poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi or poems. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2012

Mengagumi Tanpa Di Cintai ...



Desah nafas yang tak pernah lepas dari kerinduan,
melibatkan antara hatiku dan hatimu,
selama ini aku hanya dapat memandang mu dari kejauhan,
tanpa tahu kau akan membalas pandangan ku,
mengurai air mata membuatku jadi semakin takut...

Takut ku kau jauhi ku,
takut ku kehilangan mu,
takut ku mengenalimu,
dan takut ku memendam rasa cinta ini kepada mu...

Maaf kan aku yang selalu bersembunyi dari pandangan mu,
karena aku hanya ingin melihatmu bersanding bersama seseorang pilihan hatimu,
dan aku hanya ingin menyimpan rasa yang indah ini tuk' selamanya...

Rabu, 23 November 2011

Katakan, Dan Jujurlah Kepadaku ...


Jika sekiranya kau bukan lagi bagian dari taman kahyangan itu,
Ibarat bunga yang telah dipetik, diperas hingga layu kemudian,
Dicampakkan!

Aku toh masih tetap akan menerimamu,
Aku memang tidak akan memanjakanmu seperti dahulu!
Namun aku tetap akan setia mendampingimu,
Sebab engkau telah ditakdirkan menjadi jiwa dari api sulbiku...

Jika sekiranya kau bukan lagi bagian dari langit malam itu,
Ibarat bintang yang tidak mampu lagi berkerlip karena diterpa segala asa!

Akupun tidak akan terlalu peduli,
Sebab aku akan menjelma sebagai mentari,
Yang senantiasa menyinarimu lewat perantaraan sang rembulan,
Sebab engkau telah ditakdirkan menjadi bagian dari hati dan nadiku...

Hanya saja,
Pintaku,
Bisikkan saja sendiri kisahmu kedalam telingaku,
Jangan biarkan aku mendengarkan segala asamu,
Dalam gurauan setan-setan itu...

Jujurlah padaku!
Sebab kau bukan hanya sekadar menjadi Belahan jiwaku,
Namun juga ibu dari anak-anakku kelak!

Kamis, 17 November 2011

aku akan segera pulang ...


Mungkin ini hanya seputar biasa,

Tapi bedebah, aku menikmatinya,

Bukan bercinta, hanya bercerita,

Bukan bermesra, hanya tertawa,

Lalu hati mulai gelisah,,

Ke mana semua ini akan kubawa...

Teringat kata bunda, tapi sial aku menikmatinya,

Seperti terperangkap di kandang sendiri,,

Tapi tubuh ini begitu ingin menari,,

Selagi dapat membuat mereka iri,,

Berkaca dan berdecak kagum sendiri...

Tapi juga mengasihani diri,

Tenang saja bunda, aku akan menghentikan permainan ini,

Jika memang sudah waktunya,

Akan segera pulang, jika memang sudah senja,,

Tapi biarkanlah aku menikmatinya,,

Selagi bunga masih bermekaran,,

Selagi tanah masih lapang terbentang,,

Selagi arak belum lagi memabukkan...

Rabu, 16 November 2011

Senyummu Mengingatkanku ...


waktu tidak akan pernah menghilang,
jika kau memiliki senyuman,
yang membuatku mengingat akan dirimu...

senyumman mu mengingatkan ku ketika di waktu senja,
hanya satu ungkapan yang ku punya,
dan ku kan ingatkan kau pada cinta ku...

waktu,
hari,
musim yang ku tempuh bagaikan embun,
yang terucap hanyalah hati yang bimbang...

ku tak mungkin pernah menyalahkan cinta mu,
ku tak mungkin pernah menyalahkan diri mu,
karna kau datang di saat ku membutuhkan mu,
dan kau pergi di saat ku mengharapkan mu...

mungkin semua ini kan berlalu,
ku hanya bisa melepasmu,
dan mengingat kenangan manis disaat bersamamu...

ketika ku terbayang wajahmu,
ketika ku mengingat senyumanmu,
selalu ku ingat akan hadirmu disaat yang kita lalui...

jika suatu hari,
ku rindu padamu ku mohon kau kan hadir di pelukan ku,
ku berharap kau dapat hadir di sisi ku untuk selamanya...

di senyumanmu...
ketika ku meyaksikan cinta mu tidak berujung,
hingga hembusan nafas terakhir ku,
selalu ingat kata-kata sayang yang kau ucapkan...

maaf kan ku,
jika ku pernah menyakiti mu,
ku kan menghilang dari hadirmu untuk selamanya,
Walaupun itu semua,
Menyakiti ku...

Senin, 14 November 2011

Sebuah Angan Di Pelupuk Mataku ...


Sebaris angan melintas di pelupuk mata,
Yang berusaha keluar untuk menciptakanya,
Karma kau tahu ku sedang jatuh cinta,
Dan berusaha untuk mendapatkannya...

Menari ringan angan itu menghiburku,
Dari balik pelupuk mataku dia merayu,
Meneaniku di kala ku tutup mataku,
Memberiku warna baru di depan tabir biru...

Sekilas terlihat bintang yang menari,
Mengiringi langkah anganku yang tida berhenti,
Berlari dan ada kalanya melenggangkan kaki,
Menggodaku untuk mempertahankan gambaran diri...

Entah ribuan kali ku sudah menutup mataku,
Dan tetap saja kulihat sang angan di balik pelupuk mataku,
Dan yang kucoba untuk lebih merayu,
Agar dia mau terus menghiburku...

Anganku tetaplah akan mendayu,
Dan kuyakinkan dia ada di situ,
Tiap kali kulihat pelupuk mataku,
Kau ciptakan adegan baru...

Dan tiap kali kulihat lintasan cahaya,
Sosokmu pun menghilang entah kemana,
Namun kutahu kau sembunyi di sudut mataku,
Dan sedang kau siapkan sebuah cerita baru...

Kututup mataku dna kulihat sebuah tabir biru,
Dan sebaris angan melintas di depanku,
Karma dia tahu aku sedang berusaha mendapatkannya,
Karma ku tahu diapun akan selalu ada disana...

Minggu, 13 November 2011

Setangkai Mawar ...


kuletakkan setangkai mawar,
disudut beranda dimana kau biasa ada,
walau kutahu kalau kau tak kan pernah kembali,
menggantikan setangkai mawar yang selalu berseri...

sudah banyak kutumpahkan air mata,
ketika hati ini tak bisa membendung resah,
takkala kau melenggang pergi,
dan kutahu jika kau takkan berada lagisudah banyak waktu kuberdiam diri,
hanya melihat sudut beranda yang kosong tak berisi,
memcoba menciptakan sebuah banyang,
melihat kesini dan tersenyum penuh artientah seberapa banyak lagi telah kusalahkan diri,
untuk lebih dan lebih lagi,
memberi cinta selagi masih ada,
selagi kau masih hangat dalam pelukan...

sudah banyak kutenangkan diri,
mencoba mencari makna di balik semua ini,
sebuah jalan yang dulu terikat pasti,
yang hilang takkala kita mencoba berlari...

dan sekarang kucoba melihat dunia,
sekali lagi dari balik buramnya mata,
yang berlahan terbuka dan melihat cahaya,
tentang sosokmu yang tak mungkin ada...

kuletakkan setangkai mawar,
walaupun kutahu kau takkan pernah kembali,
namun hati ini melayang lebih ringan,
sekedar berharap mungkin kau akan kembali...

Di Sudut Ini ...


Bukan sejenak kutelantarkan diri,
Terjerembab dalan duka dan tak tahu kemana,
Entah jiwa ini berpaling ataupun tak mau mengerti,
Namun ku tahu bahwa telah kuabaikan sosokku ini...

Sebuah tanya terus saja menggoda,
Takkala hati ini terus menanyakan sebuah asa,
Yang diam diam merasuk ke dalam dada,
Dan lambat laun ku takut akan binasa...

Hentikanlah semua ini,
Kau tahu dan kau tak mau tahu,
Namun kalaupun itu semuannya adalah rasa ragu,
Kuharap untuk gugur segera aku mengadu...

Dalam ruangn ini aku terkungkung,
Dengan darah yang mulai mengering di kerak dinding,
Dan jariku yang terkelupas mulai menganga,
Sekedar untuk mencari jalan keluar dari derita...

Ku telantarkan diri ini sudah lama,
Dan rasanya muak untuk terus saja terpelihara,
Kuingin seorang tahu dan mau tahu,
Dan dari kamu aku ingin rasa ini tahu...

Jangan biarakan diri ini membusuk disini,
Terkungkung dalam kubangan darahku sendiri,
Yang menghiasi tiap jengkal dinding hati,
Yang mengerak menyuramkan diri...

Di sudut ini kutenggelamkan diri,
Dan dari sini mulai kupikirkan lagi,
Sudah kutelantarkan diri lama sekali,
Dan tolonglah aku untuk kembali berdiri...

Sabtu, 12 November 2011

Aku Seorang Penanti Setiamu ...


Sebuah halangan untuk kau tak bisa datang,
Kau mungkin tidak ingin datang,
mungkin kau takkan pernah datang atau mungkin kau sedang mendatangi seseorang di tempat lain...

entahlah,
Tapi aku masih tetap saja menunggumu...

Aku begitu menikmati setiap detik, menit, jam saat menunggumu...

Ketika aku menunggumu, otakku mengulang kembali memori indah tentangmu...

kau yang dulu selalu memperhatikanku,
kau yang dulu selalu menepuk pundakku saat aku terbatuk,
kau yang dulu selalu menutupi hidungku dgn tanganmu saat di jalan yang berdebu,
aku memang merindukan semua tentangmu,
aku akan menunggu lagi untuk semua itu,
karna aku adalah penunggu sejatimu...

Menantikan Sebuah Hujan ...


Sebuah sore,
dengan aku, dia dan desir angin yang mulai menepi...

masih terlalu sepi untuk sebuah perjamuan dan
pesta pora menyambut musim yang akan tiba...

Aku dan dia,
masih termenung, menatap bentangan hari menuju senjanya...

Aku dan dia, menikmati sepi,
bermonolog dalam diam...

Namun aku dan dia datang,
pada tempat orang-orang melihat dan berkata,
tentang aku dan dia...

Pada sore ini,
aku dan dia menanti sebuah hujan,
yang mengantar hari pada sebuah senjanya...

aku dan dia, datang ke tempat ini dengan senyum dan kerinduan,
pada gemuruh hujan dan kilatan petir,
pada derak-derak prahara yang mengigilkan tubuh,
dan dinginnya air yang membasahi aku dan dia
adalah daya hidup yang akan terpeluk erat,
pada bara kecintaan antara aku dan dia...

Aku dan dia,
datang di sore ini bukan sebagai sajak yang merindukan,
penyairnya, bukan pula sebagai deru ombak yang menanti sebongkah bukit karang...

Aku dan dia datang sebagai seekor rajawali yang terbang sendiri,
di atas langit tinggi...

Sebagai jiwa yang bebas dan mencintai prahara,
seperti hujan yang membawa gemuruh dan deru kilatan petir...

Dan seperti itulah aku dan dia merindukan sebuah cinta,
merindukan sebentuk kebebaan dari sebuah sudut hidup terasa besar...

Aku dan dia merindukan gemuruh hujan yang gelap,
menyambutnya dengan kaki-kaki yang telanjang,
membuang pelita dan meninggalkan tempat yang terang ini...

Kini,
dalam temaram lembayung senja kemerahan,
dia berkata padaku “biarkan hujan itu menanti”
menanti mereka yang merindukan kebebasan,
lewat bendera-bendera cinta yang mereka kibarkan,
Dan kepada mereka yang terasing dan mencintai hidup,
karena, mereka menolak untuk tunduk pada cinta yang mapan dan menindas...

Biarkanlah hujan itu menanti,
musim yang akan tiba, dan kepak sayap kupu-kupu,
kuning musim semi yang terbang bersama kecintaanya...

Jumat, 11 November 2011

Diam and keep silent ...


Diam, Termenung, dan Diam
Memandang kelamnya malam,
Memandang taburan bintang di angkasa,
Melihat bayangan di atas wajahku,
Termenung ‘ku melangkah di hidup ini
Hanya ada renungan yang membayang di pikiranku,
Wahai dunia, apakah ini yang sebenarnya,
Sungguh indah di cahaya mata,
Tapi ntahlah yang sebenarnya,
Seakan sendiri melangkah pahitnya hidup ini,
Mungkin ‘ku tak sendiri
Seandainya kau ada di sini denganku,,
Berbagi rasa yang sama,
Walaupun takkan pernah sama,
Tapi hanya bayangmu yang selalu menemaniku,
Hiasi malam sepiku,
‘Ku sangat ingin bersama dirimu
Memang tak selalu ada yang terbaik,
Dari diri ini,
Tapi ‘ku tak akan pernah berpaling darimu
Jiwa, rasa, dan kisana,
Sanggupkah ‘ku terus terlena
Tanpa ada seorangpun yang menemaniku,
Ntahlah...
Hanya pikiran yang mematung tersirat,
Syair ini seutas lintasan dalam pikiranku,
Untuk diriku seorang, atau juga untuk dirimu,
Ntahlah...
Seperti terbesit heningan diriku,
Ya karim, Ya rahman,
Hanya kepadamu aku berpulang dan menghiba,
Tentang semua yang terjadi dalam hidupku,
Sesungguhnya aku hanya sebidak catur dalam permainan catur,
Yang telah engkau ciptakan..
Tapi semua akan ‘ku jalani
Seperti rambut ini yang kian memutih,
Menunggu dan melangkah seorang diri,
Seperti untaian bunga krisan yang berguguran,
Mata ini merah menahan tangis,
Wahai jiwa apakah ‘ku sanggup menahan
Menahan semua seorang diri..!
Seandainya ada dirimu yang menemaniku,
Tapi apakah itu mungkin..?
Hanya diam yang jujur menjawab...

Jumat, 28 Oktober 2011

Yang Berkuasa ... !!!


Berjalan ku tak tentu arah,
Di hatiku berkemelut resah,
Kulihat bunga mawar terindah,
Yang tumbuh dari genangan darah...

Darah dari mimpi-mimpi,
Darah dari isak tangis,
Para pejuang revolusi,
Para pemuda negeri ini...

Yang berkuasa hanya melihat,
Yang berkuasa hanya terbata,
Yang berkuasa hanya terdiam,
Yang berkuasa ternyata hanya tertawa...

Tertegun hatiku tersentak,
Amarah menyala serentak,
Melihat tubuh tergeletak,
Diam dingin tak berdetak...

Kecewa merayap di dada,
Mengutuk ku pada mereka,
Yang duduk terdiam disana,
Menganggap dirinya Tuhan...

Yang berkuasa tidak mendengar,
Yang berkuasa tidak berkata,
Yang berkuasa tidak bertindak,
Yang berkuasa ternyata tak berkuasa...

Perjuangan kami dari hati,
Kami berjuang sampai nanti,
Perjuangan kami tiada henti,
Kami berjuang sampai akhir,
Perjuangan kami kan abadi,
Kami berjuang sampai mati...

Yang berkuasa hanya mengelak,
Yang berkuasa hanya membantah,
Yang berkuasa hanya berdusta,
Yang berkuasa ternyata harta semata...

Kamis, 27 Oktober 2011

But , Tell Me Please .....


I don't know how many sweet words I have conjured into your mind,
But, tell me, do you remember them all...?
Relentless of what you do everyday.....

Do all the words remain intact within your mind...?
Does it please you when you are unpleased...?
And does it intrigue you when you are unreleaved...?
I don't know how many words I have conspired within a given line,
But, tell me, have you learned them all...?
Regardless of what is written,
Do all the words rhyme within the given line...?
Does it inform you when you are uninformed?

And does it excite you when you are forlorned...?
I don't know how many words,
I have said that I can say is mine,
But, tell me, have you heard them all...?

Needless of all that have been said,
Do all the words I bestow upon you signal some sort of sign...?
Does it merry you when you are sad...?
And does it lecture you when you are bad...?
I don't know about others but I think we are just fine,
But, tell me, have you told them all...?
Heedless of what we do,
Do you know that I am happy just because you are my Valentine...?

Does it delight you that I belong to only you...?
And does it move you that my love for you is forever true...?

Hingga Suatu Saat Nanti ... !!!


Sekarang....
Kamu bisa menolak,
Kamu bisa membenci,
Kamu bisa mempermainkan,
Kamu bisa menuduh,
Kamu bisa mencaci maki,
Kamu bisa angkuh,
Kamu bisa menyiksa,
Kamu bisa menghancurkan hatiku....

Tapi tidak untuk suatu saat nanti.....
Ketika semua telah mati,
Ketika semua dihidupkan kembali.....

Suatu saat nanti...
Aku akan mencarimu,
Aku akan menemukanmu,
Aku akan mendekatimu,
Hingga aku tepat didepanmu.....

Suatu saat nanti..
Kulihat matamu,
sayu, tidak sebinar dulu....
Ku lihat mulutmu,
rapat, tak sebesar dulu....
Ku lihat lidahmu,
Kelu, tak setajam dulu....
Ku dengar suaramu,
Lirih, tak selantang dulu....

Suatu saat nanti.....
Matamu akan melihat terang,
Mulutmu akan berkata apa adanya,
Hatimu tak akan berdusta,
Tanganmu tak bisa membantu....

Kakimu tak bisa berlari,
Wajahmu tak bisa berpaling...

Suatu saat nanti..
Aku akan bertanya padamu :
“Apa yang telah kamu lakukan dulu ?”,
“Ada apa di hatimu ?”,
“Sedangkan kamu sadar, sedangkan kamu tahu,
kamu melukaiku ?”.

Suatu saat nanti..
Kamu akan berlutut seraya berkata :
“Aku telah berpura-pura”,
“Aku telah bersandiwara”,
“Aku telah berdusta”,
“Maafkan aku”,
“Sebenarnya aku rapuh, saat membutuhkanmu”,
“Sejujurnya aku menangis bila rindu”,
“Aku sungguh menyayangimu”,
“Aku benar benar mencintaimu”...

Suatu saat nanti...
Aku raih tanganmu,
Aku dekap erat tubuhmu,
saat air matamu berlinang perlahan,
berderai, luruh berjatuhan,
menimpa dan menyatu,
dengan airmataku dulu....

hari - hari ... !!!


Akhirnya kembali letih,
Entah percuma suara terdengar lirih,
Meski lama nian menanti lelah,
Entah mengapa mata tak mau terpejam...

Kembali menatap langit,
Membayang indah beribu tatap,
Sayang tak mungkin ada,
Hanya khayal putus asa,
Dengan hembus sejuk lembayu,
Meski tampak sendu,
Tersenyum sebelum terpejam,
Hingga mimpi memeluk lelah hati...

Indah mimpi membuat enggan,
Selalu entah pagi entah sore,
Ketika terbangun dengan sadar,
Kembali terpejam,
Menanti kantuk dan mimpi,
Meski waktu berdetik menghampiri,
Menampar setiap detak detik berlalu...

Dengan segala hembus malas,
Air dingin menghumbar pengat,
Membasuh keringat,
Mimpi tiada lagi teringat,
Meski nanti kembali mencari hangat,
Lalu terpaksa pergi,
Pertama menyeret pasti,
Kedua henti menatap diri,
Lalu pergi yakinkan diri pasti kembali...

Meski tersiksa nyata,
Indahnya tak mungkin tersentuh,
Melukai mungkin tiada sentuh pasti,
Hanya perlu menatap dari jauh,
Menyembuhkan berbagai luka,
Meski kian membekas,
Dan ketika nanti susah terpejam,
Berkhayal kembali,
Demi sebuah mimpi,
Yang tak terwujud di dunia nyata...

Sabtu, 15 Oktober 2011

Ucapan Terimakasih Untukmu

Ku lihat wajahmu,

Ada tangisan di mata itu,

Layaknya pagi pertama di musim semi,

Begitu cantik begitu pucat...



Isakan tangismu bisa kudengar,

Getaran ketakutanmu mampu ku rasakan,

Walaupun kau berkata semua akan baik-baik saja, aku tahu

Ini begitu berat bagimu...



Apakah kau mendengarkan kata-kataku,

Bisakah kau merasakan perasaanku,

Ketika jarak yang memisahkan kita adalah nol,

Ku ingin kau tahu...

Aku bahagia kau membawaku ke dalam hidupmu...



Makhluk seperti diriku ini,

Terimakasih banyak telah mencintaiku,

Walau takdir pertemuan kita begitu singkat,

Aku tidak pernah menyesalinya...



Aku mencintaimu, aku akan mencintaimu selamanya

Aku akan mengingatmu selamanya,

Sampai kita bertemu lagi di kehidupan selanjutnya,

Aku tidak akan pernah melupakanmu...

Kamis, 13 Oktober 2011

sebuah pengertian yang seperti debu !!!

sebuah kisah, sebuah cerita...
Berapa kali air mata ini mengukir
Sebuah arti kata cinta
Yang selalu terwakili kata frasa
Dari kisah debu lama
Seharusnya tak berarti...berakhir
Begitu saja….begitu saja...

Percuma bertanya….bila tak ada jawab
Malam purnama saat tiada
Mata ini terus mengutuk
Air mata saat kilau itu tiada
Bentang ribu getar suara
Saat lembut itu hilang...

Lupa...lupa...
Hanya itu sebuah harap...
Hingga berbalut dalam dosa
Dengan begitu banyak luka
Hingga semua tak mengerti
Semua terbalut dalam teka-teki
Rasa ketakutan yang tak berarti
Pertahanan terakhir tanpanya

Kini seakan terhenti
Hujan itu untuk mereka
Biar panasnya dunia meraja
Ketika aku mengutuk mereka
Yang berasa akan sebuah frasa
Dan debu itu bersamaku
Menanti terlihat dalam purnama
Hanya aku hanya dia
Bukan mereka...

Hanya aku luka…duka...
Dan tangis air mata...
Hanya aku….tanpanya...

Selasa, 20 September 2011

Sebuah Hati Milikmu ...


Puisi mu begitu puitis,

Makna lisan mu begitu dalam,

Arti sikapmu begitu luas,

Kata hatimu begitu menghujam...


Tak mampu ku menatap,

Tak mampu ku berucap,

Tak mampu ku besikap,

Hanya hati yang dapat menangkap dan merasakan...


Meski misteri belum juga tersibak,

Ach Sayangku,

Selalu ada dua sikap yang aku tangkap,

Kadang sangat romantis seromantis untaian nyanyian cinta,

Kadang cuek seolah tak ada apa-apa,

Entah makna apa yang tersirat,

Tak mampu sepenuhnya ku ungkap,

Sampai tak berani aku menafsirkanya,

Aku hanya hati yang mengikuti kata hati ku sendiri...

Ku akan mengalir seirama apa kata hatimu...

Bila hatimu masih mengetuknya ku akan ikuti kemanapun dia pergi...

Dan bila itu hanya fatamorgana….aku tetap akan mengiringinya...

Senin, 19 September 2011

Malaikat Surga Yang Menemaniku ...

ia yang dulu berbagi nafas denganku...
sampai sekarang tetap begitu...
ia yang dulu berbagi raga denganku...
sampai sekarang kita menyatu...
ia yang dulu berbagi lelah denganku...
ketika ini ia tak mau...
ia yang dulu berbagi nyawa denganku...
ketika ini ia tak ragu...

tiada yang seteduh laku pandangmu...
membuatku tahu ada yang mereka sebut nirwana...
hingga aku tak takut melangkah di dunia...

ku dengar saatku tertidur...
namaku kau sebut berulang kali hingga jatuh air matamu...
ku yakin kau berbincang dengan penciptamu...
sekali lagi ku yakin itu doa...
doa tulusmu padaku...

maaf aku hanya diam membatu...
tak banyak membantu dalam hidupmu...
malah nyenyak menyenderkan bahu...
tanpa tahu bagaimana kau selalu bersenandung lagu tidur untukku...
karena ku terlelap terlalu cepat...
hingga tersenyum pun tak sempat...

kini...
aku bukan seseorang yang pantas merengek lagi...
tidak seperti dulu aku yang tak mau tahu...
kau...
kau menangis saat rengekan pertamaku di dunia kau dengar...
tangis bahagia...
entah rengekan ku beberapa hari lalu...
tak sampai hati jika kau kini sendu...

aku kesal padamu...
kau membuat sesuatumu kekal...
sedang aku hanya orang tak tahu malu...
malu akan sesuatu yang tulus...
hhmmmm...
mungkin selama ini...
aku diam...
karena memang tak ada kata yang sepadan untuk mu...
kau...
kau...
adalah superior...!!!
karena perasaan mu merobek bahasa...
tak kenal usia...

di atas semuanya...
aku hanya ingin berucap...

“terima kasih”

untuk ibuku...
malaikat yang nyata bagiku...

Tidak Sadarkan Diri Saat Itu ...

Ketika musibah itu datang tiba ...

Bawah sadarku berkata... dan bertanya.

Apakah ini nyata... terasakah….???

Tiba-tiba jiwaku berontak.... amarah...

Inikah jawaban atas segala do’a...

yang setiap saat aku panjatkan?

tidak adakah jawaban yang baik...

atas do’aku selama ini?... Rencana apakah yang Tuhan buat?

Kenapa Engkau Tuhan murka...

kenapa musibah itu datang padaku...??

apa yang telah aku perbuat...

dan dosa apakah yang telah aku lakukan?????

Orang-orang yang aku cintai semua hilang

harta bendaku sirna...

Aku sebatangkara... kenapa Tuhan????

Apakah salahku...

Kenapa orang lain tidak merasakannya?

dan tidak Engkau berikan kepada mereka juga...

Kenapa ketika aku bicara… tiada yang mendengar...

semua membisu… semua diam seribu bahasa

Dan ketika kuraba sebuah wajah...penuh dengan darah...

dibawah, di atas, depan dan belakang...

disana semua terkujur kaku.. tiada yang bergerak...

Hari itu dunia mendadak gelap... gelap... dan gelap...

Akhirnya aku pun gelap... dan tak ingat apa-apa...

(memorial for disaster)

About A beauty in the life ...

dancing and laughing in the green grass ...

closed his eyes ...

let your body move as he likes it ...

evening wind that set the dance legok legak beauty ...

twilight birds also sing a song about the beauty ...

peace ...

really peaceful ...

when I dance with the evening ...

slowly I'm tired of dancing with the beauty ...

I lay my body ...

immersed in the green grass mattress ...

and the moment I set my breath ...

heartbeat rhythm of the singing beauty who ...

I am at peace ...

peaceful as the morning sun ...

That's when I want a future ...

That's when I want a time ...

dont wanna be alone dancing in a beauty ...

dont wanna be alone to feel a beauty ...

I want someone to know this beauty ...

I also wanted someone to dance with me in beauty ...

but I convinced myself ...

beauty comes when troubled hearts ...

but tell you even myself ...

dancing alone in the beauty of it is just a piece of happiness ...

I opened my eyes again ...

I saw clouds like an angel ...

I could only smile when see it ...

I can only cry happy when this peaceful feeling ...

I can only laugh when I'm conscious of this solitude ...

I was shocked to see a couple of butterflies rainbow pass in front of me ...

brings more than a question in my mind ...

makes me jealous to see them ...

also heed this feeling ...

still in my body lying in the green grass ...

and I more I want to sleep soundly in this beauty ...

slowly I felt the hand that held me ...

makes my heart warm and tight berdegub ...

not the least I open these eyes ...

he hugged me ...

he who lay my side ...

calling my name ...

"Horizon ..."

vague but certainly I know that voice ...

vague but certainly I know it's sweet ...

faint but definitely soon I opened my eyes and stared at her beautiful eyes ...

"I call you that beauty comes in lelapku ...... tiadakah mistake .. "

"You are what I call the Horizon .. there was no mistake I want to make you smile ... "

and I realized ....

I'm not alone ...
I smile and lovely ...