Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2013

Siswa Berkarakter Kinestetik Harus Diperhatikan ..


Setiap guru di Indonesia tidak banyak yang mengerti soal karakteristik psikologi anak. Banyak dari mereka yang mengacu pada karakteristik auditori dan visual, sedangkan karakter kinestetik dianggap sebagai kenakalan.
Psikolog yang berkecimpung di Yayasan Anak Indonesia Suka Baca, Linda Saptadji mengatakan, “karakteristik anak menjadi salah satu tantangan bagi pendidikan di Indonesia, terutama bagi anak yang memiliki karakter kinestetik. Guru sering mempersepsikan mereka sebagai anak yang nakal karna banyak bergerak”.
Linda menambahkan, anak dengan karakter kinestetik punya masalah saat menangkap pelajaran.
“Masalah terbesarnya ada di sekolah. Tidak semua pelajaran memiliki sesi praktik, sehingga harus ada usaha lebih untuk bisa menerjemahkan pengetahuan yang guru berikan dalam bentuk praktik,” jelasnya Linda.
Linda juga menyayangkan bahwa tidak semua materi pelajaran di sekolah memberikan materi praktik, padahal anak-anak kinestetik lebih mudah memahami melalui cara-cara motorik, bukan sekedar visualisasi.
“Pendidikan kan berkembang, teori-teori pendidikan juga berkembang. Anak-anak pun berkembang, tantangan juga semakin banyak,” tambah Linda.
Menurut Linda, mind mapping adalah cara efektif saat meningkatkan kualitas anak didik yang mempunyai beragam karakteristik. Tony buzan, seorang konsultan pendidikan menggunakan mind mapping untuk dunia pendidikan.
“Karena pada saat mapping terserah anak mau menulis apa dan mereka mempertanggungjawabkan apa yang mereka tulis”.

Jumat, 08 Maret 2013

Memotivasi dengan Ancaman, Picu Ketidakbahagiaan Karyawan ...


Jika karyawan tidak puas di tempat kerja, bisa jadi sebagian karena gaya manajemen atasan mereka. Hasil sebuah penelitian baru oleh Dr Nicolas Gillet, dari Universite François Rabelais di Prancis, dan timnya.

Manajer yang menggunakan ancaman sebagai cara untuk memotivasi karyawan, organisasi yang tidak mendukung kontribusi individu, perasaan frustrasi pada kebutuhan dasar untuk otonomi, kompetensi, dan keterkaitan dengan rekan kerja, cenderung memiliki dampak negatif pada kesejahteraan karyawan.

Penelitian ini berjudul The Impact of Organizational Factors on Psychological Needs and Their Relations with Well-Being, dipublikasikan secara online dalam Springer’s Journal of Business and Psychology, dikutip Science Daily.

Kesejahteraan di tempat kerja memiliki perhatian lebih karena memiliki dampak pada ekonomi perusahaan, terutama bila peforma kinerja buruk. Para peneliti melihat dampak dari dukungan organisasi yang dirasakan dan gaya interpersonal atasan pada kesejahteraan karyawan.

Pekerja diminta untuk mengisi kuesioner yang menanyakan tentang persepsi mereka pada gaya manajemen supervisor mereka, serta sejauh mana mereka merasa bahwa organisasi mendukung mereka.

Para karyawan yang merasa bahwa atasan mereka mendukung otonomi mereka, kompetensi dan keterkaitan dengan rekan kerja juga adanya dukungan dari organisasi, menunjukkan rasa bahagia dan meningkatkan kepuasan. Sebaliknya, karyawan yang merasa atasan mereka berperilaku memaksa, menekan, dan otoriter, dan organisasi dianggap tidak mendukung mereka, menunjukkan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.

Para peneliti menyimpulkan bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa kedua faktor yaitu organisasi dan manajerial memiliki pengaruh pada kepuasan atau rasa frustrasi. Supervisor harus memberikan bawahan pilihan dari pada ancaman dan melakukan strategi yang dapat meningkatkan tenaga kerja dengan baik.

Kamis, 07 Maret 2013

Kecanduan Internet Meningkat di Negara Jerman ..

Sekitar 500 ribu masyarakat Jerman masuk dalam kategori pecandu internet. Rata-rata mereka menunjukkan simtom yang sama dengan kecanduan narkoba atau alkohol. Para pecandu merasakan hidup tanpa gairah bila tidak ada internet. Akibatnya, generasi muda Jerman bisa terancam karna kondisi tersebut.

“Abad ke 21, baik di bidang kerja maupun secara pribadi, orang tidak bisa lepas dari internet”, kata Michael Bender, dokter kepala bagian psikiatri, psikosomatis dan psikoterapi di rumah sakit Rhein-Jura.
Menurut laporan pemerintah setempat, lebih dari setengah juta warga usia 14 hingga 64 tahun mengalami kecaduan internet. Sebanyak 250 ribu pecandu internet masuk dalam usia remaja, dengan laki-laki remaja sebagai pecandu paling beresiko. Sedangkan perempuan lebih candu pada jejaring sosial dibandingkan laki-laki.
“Penderitanya menunjukkan gejala yang sama seperti pecandu minuman keras atau narkoba”, kata Michael Bender.
Mereka yang mengalami kecanduan internet kerap memutus komunikasi dengan keluarga dan teman mereka di dunia nyata. Hal pertama yang dilakukan saat setelah bangun tidur adalah hidupkan komputer dan segera online.
“Banyak yang menyadari, mereka mengabaikan aktifitas sosial dan kegiatan waktu luangnya. Tapi tidak mampu keluar dari jeratan dunia virtual. Mereka tidak bisa lagi mengendalikan konsumsinya akan internet”, kata Bender.
Di lain kesempatan, Dokter kepala di bagian psikiatri anak-anak dan remaja di rumah sakit anak-anak Hannover, Christoph Möller mengatakan, aktivitas tinggi dalam penggunaan internet tidak berarti dianggap kecanduan.
“Yang kritis adalah, jika orang itu menderita atau memicu kerugian, jika ia tidak lagi pergi ke sekolah dan mengabaikan kontak sosial”, paparnya.
Pada 2008 telah dibuka bagian rawat jalan untuk kecanduan games pertama di Jerman, tepatnya di rumah sakit kedokteran psikomatis Universitas Mainz. Saat ini beberapa instalasi telah menerapkan hal yang sama. Para pasien kembali belajar dari awal, bagaimana bergaul secara sehat melalui internet. Mereka perlu untuk sadar kembali akan kesehatan fisik dan mencari hobbi baru.
Sementara itu, Christoph Möller menyarankan pada orang tua untuk menjauhkan komputer dari kamar tidur anak, sebab anak-anak memerlukan citra pancaindera yang luas bagi dalam perkembangan mereka. Namun tetap diakui, tidak mudah bagi orang tua untuk tampil sebagai panutan di era zaman informasi ini.

Rabu, 13 Februari 2013

Tiga Aspek Menumbuhkan Kepercayaan Anak pada Orang tua ...


Sebuah hasil penelitian baru dengan pendekatan indigenous psychology (psikologi konteks kultural) pada masyarakat etnis jawa menunjukkan bahwa, sikap “ngemong” dari orang tua yang terdiri dari asih, asah, dan asuh secara kuat mempengaruhi pembentukan kepercayaan anak.

Kata ngemong digunakan untuk menggambarkan hubungan orang tua dan anak, terutama dalam konteks budaya Jawa. Jawa adalah salah satu kelompok etnis di Indonesia. Ngemong terdiri dari tiga komponen pengasuhan: memberikan kasih sayang (asih), merangsang potensi anak (Asah), dan memenuhi kebutuhan anak (asuh).

Penelitian ini akan dipublikasikan oleh Internasional Journal of Research Studies in Psychology (IJRSP) pada Juni 2012, yang ditulis oleh M.A. Hakim, H.B. Thontowi, Kwartarini Wahyu Y. dari Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dan Uichol Kim dari College of Business Administration, Inha University, Incheon, Korea.

“Penelitian itu bertujuan untuk memahami faktor-faktor apa saja yang membentuk kepercayaan anak Jawa kepada orangtuanya menurut kacamata si anak sendiri.” Kata M.A. Hakim ketika dihubungi Psikologi Zone.

Lebih jauh, penelitian ini mendemonstrasikan adanya perbedaan pola kepercayaan anak kepada ayah dan ibu dalam konteks Jawa.

“Kepercayaan anak kepada ibu cenderung didasari oleh nilai asih dan asuh terwujud dalam bentuk kasih sayang dan pengasuhan yang diberikan oleh ibu, sementara alasan anak percaya kepada ayah lebih didasarkan pada perannya sebagai pendidik utama dalam keluarga yang merepresentasikan nilai asah.” Ungkap Hakim.

Penelitian ini menguji alasan mengapa orang Jawa percaya pada ibu dan ayah mereka. Subjek penelitian sebanyak 356 mahasiswa etnis Jawa di Universitas Gadjah Mada. Laki-laki sebanyak 97 orang dan wanita sebanyak 259 orang.

Banyak psikolog percaya bahwa karakteristik kepercayaan pada anak-anak dalam konteks keluarga menjadi dasar hubungan sosial, terutama dalam interkasi sosial. Diharapkan orang tua juga harus belajar memahami anak-anak mereka untuk memfasilitasi mereka tumbuh, dan akhirnya menimbulkan prestasi.

Pendidikan orang tua dalam membentuk kepercayaan merupakan sesuatu yang mungkin perlu untuk dikembangkan dan dibangun untuk tumbuh kembang anak. Dalam skala yang lebih luas kepercayaan dapat mengurangi benturan dan gesekan sosial, yang (diduga) berasal dari kurangnya kepercayaan antar kelompok sosial.

Sebuah fondasi kepercayaan yang kuat, pada akhirnya membentuk masyarakat yang harmonis di bawah bingkai Bhinneka Tunggal Ika, dasar nasionalisme Indonesia.

Jumat, 08 Februari 2013

Jenius dan Gangguan Jiwa Tidak Jauh Berbeda ^_^

 
Banyak tokoh dunia yang dikenal dengan kejeniusannya, namun justru mengalami gangguan kejiwaan. Kondisi semacam ini membuat banyak orang mengira bahwa jenius dan sakit jiwa tidak jauh berbeda. Sebuah penelitian baru menemukan bahwa kedua hal tersebut memang terkait.

Dasar pemikiran hubungan antara kejeniusan dengan kegilaan telah banyak menarik perhatian banyak orang sejak lama. Fakta tersebut muncul dari banyaknya tokoh jenius seperti, Isaac Newton, Ludwig van Beethoven, Edgar Allan Poe, dan John Nash, yang mengalami gangguan kejiwaan.
Hasil penelitian baru yang menyebutkan hubungan keduanya, telah dibahas dalam sebuah acara 5th annual World Science Festival pada 31 Mei di New York, Amerika Serikat.
Salah satu panelis acara tersebut adalah Kay Redfield Jamison, psikolog klinis dan profesor dari Johns Hopkins University School of Medicine. Ia mengatakan, temuan ini mendukung bahwa banyak orang jenius yang justru mengalami siksaan psikis. Kreativitas bagi mereka terkait dengan gangguan suasana hati atau bipolar.
Sebuah penelitian lain yang diterbitkan tahun 2010 di Swedia pada 700.000 orang usia 16 tahun. Penelitian ini dilakukan untuk menguji kecerdasan peserta dan menindaklanjuti apakah 10 tahun berikutnya ada kemungkinan mengalami penyakit mental.
“Mereka menemukan bahwa orang yang unggul saat mereka berusia 16 tahun empat kali lebih mungkin untuk terus mengembangkan gangguan bipolar,” ungkap Jamison, seperti dilansir Livescience, Selasa (5/6).
Gangguan bipolar merupakan merupakan perubahan suasana hati yang ekstrem, terdiri dari episode kebahagiaan (mania) dan depresi. Kemudian bagaimana siklus ini dapat menciptakan kreativitas?
“Orang-orang dengan bipolar cenderung menjadi kreatif ketika mereka keluar dari depresi berat. Ketika suasana hati membaik, kegiatan otaknya pun bergeser. Aktivitas mati di bagian bawah otak yang disebut lobus frontal dan menyala di bagian yang lebih tinggi dari lobus,” jelas James Fallon, neurobiologis dari University of California-Irvine, yang ikut menjadi panelis.
Fallon menambahkan, hebatnya, pergeseran yang sama juga terjadi saat kreativitas terjadi dengan sangat tinggi pada otak manusia.
“Ada hubungan antar sirkuit yang terjadi antara bipolar dan kreativitas,” jelas Fallon.
Namun, tidak selamanya dorongan kreativitas muncul saat setelah depresi muncul. Kondisi gangguan kejiwaan juga dapat melemahkan atau bahkan mengancam hidup seseorang.

Sabtu, 15 September 2012

Saat Frustasi Orang Juga Tersenyum

Sebuah penelitian baru menemukan bahwa saat orang frustasi, mereka biasa tersenyum. Apakah Anda termasuk salah satu dari mereka? Ihsan Hoque, seorang peneliti dari Massachussets Institute of Technology, merancang sebuah program komputer yang dapat mengungkapkan perbedaan antara senyum kesenangan atau senyum dari bentuk frustasi.
Program tersebut dapat mengidentifikasi emosi penggunanya dan akan memberikan respon. Hasil penemuan ini diharapkan mampu membantu banyak tenaga profesional dalam memahami ekspresi orang autistik.
Penelitian ini diujicobakan oleh peneliti MIT Media Lab, para peserta diminta untuk mengeluarkan ekspresi kegembiraan atau frustasi, webcam kemudian akan merekam ekspresi mereka.
Pertama, para peserta diminta untuk mengikuti tes online yang dirancang untuk membuat mereka mengalami frustasi dan menonton video lucu untuk menciptakan respon kegembiraan.
Saat peserta diharuskan untuk pura-pura mengalami frustasi, 9 dari 10 peserta tidak tersenyum. Hal yang berbeda saat mereka benar-benar mengalami frustasi, sebanyak 90 persen dari mereka justru tersenyum.
“Penelitian ini mungkin menjadi awal pengetahuan untuk mengetahui hubungan senyuman dalam ekspresi emosi negatif. Ini menunjukkan pada kita bahwa tidak semua senyum bersifat positif,” papar Psikolog Prof Jeffrey Cohn, dari University of Pittsburgh, salah satu peneliti dalam studi tersebut, dikutip The Telegraph..

Rating: 4.9 Description: Saat Frustrasi Orang Juga Tersenyum Reviewer: Ichsan Private - Itemreviewed: Sebuah penelitian baru menemukan bahwa saat orang frustasi, mereka biasa tersenyum.

Sabtu, 18 Agustus 2012

Minta Cium, Cinta atau Nafsu .. ?

Minta Cium, Cinta atau Nafsu, Siapa diantara Anda yang saat ini sedang menjalin cinta atau setidaknya pernah menjalin hubungan cinta? Sebagian besar orang pernah memadu kasih dalam ikatan cinta. Siapa yang tidak bahagia berpegangan tangan, saling merangkul, berciuman dan melakukan bentuk kemesraan lain dengan pasangan.

Sebuah masalah akan muncul ketika mereka masih dalam proses pacaran. Salah satu pasangan dianggap agresif dan sering meminta untuk dipeluk, bahkan dicium. Beberapa orang menganggap hal itu adalah tidak benar dan cenderung memanfaatkan situasi.

Namun, di sisi lain, tuntutan untuk dicium dan dipeluk dianggap sebagai bentuk rasa cinta pada pasangan. Tuntutan yang tidak terpenuhi, dianggap tidak ada cinta di sana. Dalam sebuah perumpamaan, cinta tanpa ciuman seperti sayur tanpa garam.

Pertanyaanya, apakah anggapan masyarakat terutama di kalangan remaja ini benar? Dilihat dari kacamata psikologi, Sternberg mengungkapkan dalam penelitiannya, bahwa cinta memiliki tiga unsur, yaitu gairah (passion), kedekatan (intimacy), dan komitmen (commitment). Walaupun tidak semua orang memenuhinya, cinta yang sempurna adalah cinta yang memiliki syarat adanya ketiga unsur tersebut. Jadi, masing-masing unsur tidak boleh hilang dalam hubungan cinta yang sempurna.

Ciuman di kening, pipi dan bibir merupakan bentuk perilaku dari gairah dalam sebuah cinta. Bila orang menganggap bahwa nafsu atau gairah adalah sama dengan cinta, maka itu tidak sepenuhnya benar. Nafsu atau gairah merupakan bagian dalam tiga unsur cinta yang sempurna.

Kemudian, bagaimana anggapan bahwa cinta tanpa pelukan dan ciuman seperti sayur tanpa garam? Inilah yang disebut dengan Companionate love oleh Sternberg, yaitu di mana gairah sudah tidak nampak lagi, tetapi kedekatan yang mendalam dan komitmen masih tetap ada. Tipe cinta ini merupakan cinta tanpa adanya gairah. Biasanya terjadi pada mereka yang memiliki hidup yang sibuk dan seiring waktu gairah pada pasangan mulai memudar, namun masih ada komitmen untuk hidup bersama.

Perbedaan status ‘pernikahan’ dan ‘berpacaran’ membuat unsur gairah dalam cinta memiliki nilai yang berbeda. Dalam sebuah pernikahan, gairah merupakan unsur yang harus ada dan terpenuhi oleh masing-masing pasangan. Berbeda ketika masih pacaran, sebagian pasangan menganggap gairah dalam ikatan cinta merupakan pemaksaan dan cenderung memanfaatkan situasi.

Keputusan ada di tangan Anda, masih menganggap ciuman adalah hal yang negatif ketika pacaran, atau itu adalah bagian dari cinta..

Kamis, 09 Agustus 2012

Penyebab Remaja Merokok ...


Penyebab Remaja Merokok, Saat ini, sudah tidak asing lagi melihat remaja merokok. Perilaku merokok sudah dimulai pada masa anak-anak dan masa remaja. Hampir sebagian memahami akibat berbahaya dari merokok. Pertanyaanya, kenapa masih banyak diantara remaja ini tidak mencoba menghindari perilaku tersebut?

Sebuah penelitian telah dilakukan oleh Avin Fadilla Helmi dari Universitas Gadjah Mada dan Dian Komalasari dari Universitas Islam Indonesia dalam jurnal yang berjudul faktor-faktor penyebab perilaku merokok pada remaja.

Terdapat berbagai macam alasan yang melatarbelakangi perilaku merokok pada remaja. Secara umum, perilaku merokok disebabkan faktor dalam diri juga disebabkan faktor lingkungan. Faktor dalam diri remaja dapat dilihat dari kajian perkembangan remaja, yaitu krisis psikososial dari Erikson yang mengatakan bahwa masa remaja adalah masa mencari jati dirinya.

Perilaku merokok merupakan simbol bahwa mereka telah matang, punya kekuatan, bisa menjadi pemimpin dan memiliki daya tarik pada lawan jenis. Adanya faktor kepuasan psikologi yang diperoleh dari merokok yaitu berupa keyakinan dan perasaan menyenangkan dapat membuat perilaku ini semakin kuat.

Faktor dari lingkungan adalah pihak-pihak yang berpengaruh besar dalam proses sosial. Proses ini meliputi transmisi nilai, kepercayaan, sikap dan perilaku yang diturunkan. Walaupun orangtua memiliki peranan dalam proses sosial, namun ada kelompok yang memiliki memiliki transmisi sosial secara horisontal yaitu teman sebaya.

Masa remaja adalah masa dimana mereka mulai memisahkan diri dari orangtua dan bergabung pada kelompok sebaya. Apalagi kebutuhan untuk diterima sering kali membuat remaja berbuat apa saja agar dapat diterima dalam kelompok dan bebas dari sebutan “pengecut” dan “banci”.

Bagaimana perilaku merokok ini dapat menular? Salah satu yang dapat menjelaskan adalah dengan teori social cognitive learning dari bandura. Teori ini menyatakan bahwa perilaku individu disebabkan oleh pengaruh lingkungan, individu dan kognitif. Jadi, perilaku merokok bukan hanya proses meniru, namun ada penguatan dari teman sebaya dan keluarga bila sama-sama merokok.

4 tahap perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu:

1. Tahap Preparatory, seorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat, atau dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbulkan minat untuk merokok.
2. Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang yang akan meneruskan ataukah tidak terhadap perilaku merokok.
3. Tahap Becoming a Smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak 4 batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi perokok.
4. Tahap Maintenance of Smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan diri (self-regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.

Avin Fadilla Helmi dan Dian Komalasari memberikan saran bagi orangtua menghindari anak tidak merokok:

1. Bagi orangtua yang menginginkan anaknya tidak merokok maka anggota keluarga tidak disarankan merokok atau tidak memberikan pengukuh positif ketika remaja merokok.
2. Teman sebaya memberikan kontribusi yang cukup besar kepada remaja untuk merokok, dalam hal ini jika orangtua tidak menginginkan anaknya merokok, maka orangtua perlu waspada pada kelompok sebaya anaknya.
3. Perilaku merokok lebih didasarkan atas pertimbangan emosional. Berkaitan dengan masalah tersebut upaya preventif maupun kuratif sebaiknya tidak menggunakan pendekatan kognitif seperti pemberian informasi bahaya atau dampak negatif merokok, tetapi sentuhan-sentuhan afeksional atau pendekatan emosi.

Cara Membangun Kebahagiaan di Tempat Kerja ...

Cara Membangun Kebahagiaan di Tempat Kerja, Psikologi Zone – Banyak dari kita memiliki pekerjaan untuk mencari nafkah. Bila Anda bekerja setelah lulus kuliah di usia 20-an tahun, kemudian pensiun di usia 60 tahun, dan Anda memiliki umur 70 – 80 tahun, berarti Anda bekerja selama 40-an tahun, itu hampir 50% dari hidup Anda. Jelas bahwa kualitas pengalaman kerja Anda dapat mempengaruhi keseluruhan kesejahteraan hidup Anda.

Anda mungkin pernah mendengar dari anggota keluarga, teman, atau bahkan orang lain yang merasa tertekan dalam pekerjaan dan memutuskan mencari pekerjaan lain. Kenyataanya, pekerjaan baru tidak dapat menjamin Anda untuk menjalani kehidupan kerja yang lebih bahagia. Apakah ada sesuatu yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kebahagiaan kita di tempat kerja?

Lyubomirsky, Sheldon, dan Schkade dalam jurnal Review of General Psychology. Faktor genetik menyumbang 50% dalam kebahagiaan Anda. 10% disumbangkan oleh keadaan di sekitar Anda. Sedangkan 40% sisanya ditentukan oleh diri Anda sendiri. Bila diibaratkan, mencari kebahagiaan di tempat kerja adalah sama dengan lukisan minyak:

1. Memiliki bakat bawaan dalam seni adalah faktor genetik yang menyumbang 50% kebahagiaan Anda.
2. Anda mungkin secara kebetulan, mendapatkan cat minyak, kanvas, dan satu cat kuas yang berbeda kualitasnya dengan apa yang dimiliki orang lain. Bila anda memiliki kualitas yang baik, itu hanya menyumbang 10% dari kebahagiaan dalam hidup Anda.
3. Terlepas dari dua kondisi sebelumnya, Anda masih bisa menghasilkan berbagai macam bentuk lukisan. Anda bisa meyakinkan diri belajar pada orang yang ahli untuk menghasilkan lukisan yang indah. Ini merupakan tindakan yang ditentukan oleh diri Anda sendiri untuk memberikan sumbangan 40% kebahagiaan dalam hidup Anda.
Tips untuk Mewarnai Kehidupan Kerja Anda Menjadi Bahagia

Anda mungkin berpendapat bahwa Anda bukanlah seorang atasan, jadi bagaimana Anda bisa menambahkan elemen-rangsangan kebahagiaan di tempat kerja? Dikutip dari Positive Psychology News, berikut adalah beberapa tips yang mungkin berguna:

Sampaikan terima kasih kepada rekan kerja Anda: Sebuah ucapan terima kasih akan menunjukkan penghargaan anda pada rekan kerja. Bila Anda bertanggungjawab atas hubungan staf Anda, maka membuat sebuah program terima kasih akan meningkatkan kesejahteraan dan memunculkan emosi positif diantara mereka.

Kita mungkin mengucapkan terimakasih dalam sebuah catatan kecil dan diberikan pada mereka. Misalnya, “Saya ucapkan terima kasih pada Anda yang telah memberikan saya informasi yang berguna untuk menyelesaikan proyek tersebut”, “Terima kasih telah membantu saya untuk menyelesaikan proyek selama saya sakit” dan “Terima kasih untuk mendengarkan kata-kata saya dan segala bentuk canda untuk menghibur saya”.

Bila perusahaan Anda tidak memiliki program terimakasih, Anda bisa mengirimkannya melalui email atau mengirim catatan terima kasih pada mereka secara langsung. Anda akan dapat menumbuhkan sikap syukur dan meningkatkan kebahagiaan Anda di tempat kerja bersama rekan kerja Anda.

Menemukan keunggulan dalam diri Anda: Dalam buku Character strengths and virtues: A handbook and classification oleh Peterson dan Seligman, ada klasifikasi kekuatan dan kebajikan yang memungkinkan manusia untuk berkembang melalui kajian Psikologi Positif. Terdapat 6 kategori kebajikan manusia: kebijaksanaan, keberanian, kemanusiaan, keadilan, kesederhanaan, dan transendensi. Anda perlu untuk menentukan pada area mana karakter diri Anda berada.

Bila kekuatan karakter Anda adalah Kebaikan, Anda mungkin bisa bergabung dengan organisasi sosial. Jika Anda tidak menemukan ada organisasi sosial, Anda dapat meminta rekan-rekan Anda untuk melakukan pelayanan sosial bersama-sama. Tindakan ini bisa memberi Anda kesempatan untuk menunjukkan kekuatan karakter Anda di tempat kerja Anda dan mungkin meningkatkan tingkat kebahagiaan Anda di tempat kerja.

Mengembangkan hubungan sosial di tempat kerja: Diener dan Seligman dalam jurnal Psychological Science menemukan bahwa hubungan sosial yang baik membentuk sebuah kondisi yang diperlukan untuk mencapai kebahagiaan. Anda menghabiskan waktu sekitar 8 jam per hari dengan rekan-rekan kerja. Ini dapat dijadikan momentum untuk menjalin hubungan sosial dengan mereka dan meningkatkan kebahagiaan di tempat kerja. Anda bisa melakukan sapaan selamat pagi atau bahkan menyapa rekan kerja Anda saat bertemu di lorong. Interaksi singkat sebenarnya memicu sentuhan kebahagiaan dan manfaat yang terkandung di dalamnya.


Senin, 23 Juli 2012

Apa sih penyebab Utama Demo Pekerja ...


Apa sih Penyebab Utama Demo Pekerja? Perusahaan sebagai sebuah organisasi merupakan tempat dimana ada dua orang atau lebih bekerja bersama untuk mencapai tujuan. Terwujudnya pencapaian sebuah tujuan diperlukan berbagai kegiatan dan untuk melaksanakan kegiatan itu perlu adanya sumber daya, seperti sumber daya keuangan, fisik, teknologi dan sumber daya manusia. Semua perusahaan mengetahui bahwa salah satu sumber daya yang paling penting dalam menentukan sukses dan tidaknya tujuan perusahaan adalah fungsi sumber daya manusia (SDM).

Masih banyaknya demonstrasi pekerja atau buruh di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan adanya ketidaksesuaian dalam pengelolaan SDM. Sering terjadi aksi demo, dikarenakan adanya ketidaknyamanan dalam bekerja, upah yang minim dan juga ketidakpuasan dalam bekerja. Dalam sebuah jurnal dari Community Mental Health Journal oleh Ranz, J. (2001) bila kepuasan kerja diabaikan, maka dampaknya dapat mengganggu performa kerja, seperti kebosanan, malas, gangguan fisik, kecemasan, depresi, dan perilaku kontraproduktif.

Penelitian Muhaimin (2004) dalam Jurnal Psyche, menunjukkan ciri perilaku pekerja yang puas adalah mereka mempunyai motivasi untuk berkerja yang tinggi, mereka lebih senang dalam melakukan pekerjaannya, sedangkan ciri pekerja yang kurang puas adalah mereka yang malas berangkat ke tempat bekerja dan malas dengan pekerjaan dan tidak puas.

Membangun kepuasan kerja karyawan bukan sebuah tugas yang mudah dilakukan bagi pihak manajemen. Mereka harus tahu apa saja indikator kepuasan atau ketidakpuasan kerja yang ditunjukkan oleh pekerja. Dalam prakteknya untuk mencapai tujuan tersebut organisasi kurang memperhatikan ada tidaknya perasaan puas dan tidak puas dari para pekerjanya.

Kepuasan kerja sudah bukan lagi asal terpenuhinya faktor seperti gaji. Saat ini kepuasan kerja baiknya dilihat dari unsur psikologis. Mengapa? misalnya, dua pekerja dengan pekerjaan dan gaji yang sama mungkin akan memiliki pendapat atau reaksi yang berbeda atas apa yang mereka peroleh dan mungkin juga akan berbeda tingkatan kepuasan kerja mereka.

Penerapan Disiplin Efektif oleh Atasan Pria ...


Penerapan Disiplin Efektif oleh Atasan Pria, Psikologi Zone – Efektifitas seorang atasan dalam melakukan tugas-tugas manajerial menjadi sangat penting untuk operasional perusahaan. Dalam sebuah jurnal yang berjudul Effective delivery of workplace discipline: Do women have to be more participatory than Men, oleh Joan F.B, Leanne E.A, dan David A.W. (2005), menujukan baik manajer pria maupun wanita memiliki derajat keefektifan yang sama dalam hal performance, motivation of the leader and employees, manajerial ability, employee dan group level productivity.

Perlu juga diperhatikan, tidak semua tugas manajerial efektif dilakukan oleh atasan pria maupun wanita. Manajer pria dan wanita memiliki perbedaan dalam strengths dan weaknesses untuk mencapai efektifitas tugas manajerial. Strengths dan weaknesses dapat terjadi karena faktor biologi atau perbedaan peran sosial.

Terdapat berbagai macam tugas manajerial dalam mengelola sebuah perusahaan, termasuk mendukung terwujudnya kedisiplinan para pekerja. Proses ini meliputi pengarahan dan mempengaruhi perilaku pekerja dalam menentukan, mana perilaku yang benar dan mana perilaku yang mendukung performa kerja. Bila proses ini terhambat, tentu akan mempengaruhi jalannya sebuah organisasi.

Bukan hanya manajer yang membawahi beberapa pekerja dan mengemban tugas manajerial, ini juga dilakukan oleh seorang supervisor. Supervisor memiliki kebijaksanaan dalam menentukan masalah mana yang memerlukan tindakan disiplin dan apa tindakan yang tepat dalam meresponnya.

Diungkapkan oleh Leanne E.A, James A.C, dan David A.W. (2000) dalam Journal of management, volume 27, penerapan disiplin akan efektif bila diemban oleh atasan pria dibandingkan oleh wanita. Sex role stereotypes dan peran sosial memiliki perbedaan dalam melihat pria dan wanita. Dimana wanita dianggap tidak unggul dalam penerapan administering discipline dibandingkan pria.

Kebanyakan orang percaya bahwa perilaku wanita diharapkan untuk bersikap lembut, sensitif, pasif dan suportif. Mereka akan menderita dan kurang efektif bila melakukan penerapan kedisiplinan pada pekerja dibandingkan pria.

Penerapan disiplin oleh atasan merupakan tugas yang membutuhkan karakteristik masculine. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Joan, dkk., pada 263 undergraduate business students menunjukkan bahwa, sekitar 85% responden mengatakan penerapan kedisiplinan oleh atasan cocok bagi mereka yang memiliki karakteristik masculine oriented. Sebesar 86% responden mengatakan penerapan hukuman juga membutuhkan karakteristik masculine oriented. Gender stereotype menunjukkan peran masculine oriented terjadi pada pria dengan feminine oriented pada wanita.

Namun, apakah ini terjadi dalam masyarakat kita? Munculnya penolakan gender stereotype antara peran masculine oriented pada pria dengan feminine oriented pada wanita, dimana penerapan kedisiplinan pada tugas atasan tidak hanya bisa dilakukan oleh atasan pria, yang menurut gender stereotype memiliki karakteristik masculine oriented, namun juga atasan wanita.

Sebuah penelitian oleh Supriyadi (2005) dalam jurnal Humaniora volume 17, 195-203 memberikan pandangan pada isu androgini yang saat ini berkembang, dimana batas karakter masculine dan feminine melebur tidak jelas. Sudah banyak munculnya kesadaran kaum wanita yang menganut pandangan androgini dalam gerakan mereka, seperti feminisme atau kesetaraan gender.

Sabtu, 21 Juli 2012

Kecerdasan Anak Berasal dari Orangtua ...

Kecerdasan Anak Berasal dari Orangtua. Sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris dan Skotlandia menyimpulkan orangtua mewariskan setengah kecerdasan pada anak. Inilah salah satu evolusi manusia yang luar biasa.

Orang tua mana yang tidak mengharapkan anaknya cerdas dan pintar? Hampir semua orang tua mengharapkan hal tersebut. Namun sadarkah para orang tua bahwa kecerdasan yang dimiliki anaknya juga berasal dari orang tuanya?

Penelitian yang ini merupakan hasil yang diperoleh dari 3.500 responden yang tinggal di Inggris dan Skotlandia. Para responden dianaliss untuk diselidiki setengah juta penanda genetik dan perubahan kecil yang terjadi pada DNA-nya. Peneliti juga memeriksa hasil penelitia dan tes kecerdasan, serta dilengkapi dengan data pendidikan para responden.

Penelitian ini menunjukkan bahwa 40 persen kecerdasan yang dimiliki anak termasuk jenis kecerdasan kristal, atau dikenal dengan istilah ilmiahnya crystallised-type intelligence. Kecerdasan kristal ini yakni kemampuan memperoleh pengetahuan dan keterampilan selama bertahun-tahun yang tersimpan dalam gen manusia.

Jenis kecerdasan lainnya yakni kecerdasan cair atau fluid-type intelligence. Kecerdasan cair ini yakni kemampuan bernalar dan berpikir abstrak yang bekerja dibawah tekanan perintah dari gen. Penelitian yang dipublikasikan melalui The Journal Molecular Psychiatry menyimpulkan bahwa, ada 51 persen kemampuan berpikir ‘outside the box’ (kemampuan berpikir keluar dari aturan) manusia, berada di bawah kekekuasaan gen.

Sebelumnya ada penelitian dari Peter Visscher yang bekerja di Queensland Institute of Medical Research, Australia. Penelitian Peter Visscher ini menghasilkan jawaban bahwa, banyak gen yang ikut peran pada kecerdasan anak.

Kepala penelitian Profesor Ian Deary dari University of Edinburgh menyebutkan banyak faktor yang terlibat dalam kecerdasan anak. Perbedaan pada kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu berkaitan sekali dengan faktor-faktor kehidupan. Misalnya berhubungan dengan pendidikan, pekerjaan, penghasilan, kesehatan dan faktor usia.

Walau pun begitu, Deary menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukannya secara tegas menyatakan sebagian besar perbedaan tingkat kecerdasan pada masing-masing individu lebih karena variasi genetik.

Keterbatasan materi tidak selalu menjadi pembatas tingkat intelektualitas seseorang. Boleh jadi kecerdasan yang dimilikinya merupakan hasil warisan dari kecerdasan orang tuanya. Penelitian ini juga menunjukkan perbedaan kecerdasan manusia dan simpanse, meski secara genetik sama.

Mengajari Anak Cara Berterima Kasih ...

Setiap orangtua tentu menginginkan agar anak memiliki sopan santun, baik di lingkungan keluarga, lebih-lebih di lingkungan sosial lain. Sopan santun sudah semestinya diajarkan sejak dini agar menjadi kebiasaan bagi si kecil. Salah satu bentuk sopan santun yang sederhana adalah adalah mengucapkan terima kasih.

Meski mudah, bagi sebagian anak zaman sekarang, kata-kata ini tak jarang sulit diucapkan. Kata-kata ini dianggap biasa dan disaat yang sama diremehkan. Padahal, ucapan terima kasih punya arti dan makna mendalam.

Berikut ini beberapa cara yang bisa dicoba untuk mendidik si kecil agar tak segan berterima kasih:

1. Beri teladan. Si anak adalah peniru ulung. Maka, berikanlah teladan baik kepada anak-anak. Sebuah penelitian menyatakan bahwa anak-anak meniru setidaknya 25 persen perkataan orang yang sering didengar oleh mereka. Biasakanlah anak mendengar kata “tolong” dan “terima kasih” setiap hari pada berbagai keadaan.

2. Jelaskan. Sebagian besar anak-anak hanya kenal mengucapkan “terima kasih” sebagai formalitas setelah diberi bantuan. Sebaiknya, berilah pengertian kepada si kecil arti kata-kata tersebut dan dampak bagi orang yang mendengar.

3. Gambarkan perasaan Si Pendengar. Ajak anak untuk memposisikan diri dan ikut memahami beragam perasaan jika mendengar ucapan yang terlontar.

4. Ekspresikan rasa syukur. Jelaskanlah kepada anak, bahwa dengan berterima kasih, anak-anak secara tidak langsung juga telah mengekspresikan rasa syukur kepada Tuhan. ^_^

Pentingnya Kepuasan Kerja Karyawan ...

Keberadaan sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan sangat penting karena mereka yang memprakarsai terbentuknya organisasi, mereka yang berperan membuat keputusan untuk semua fungsi dan mereka juga yang berperan dalam menentukan kelangsungan hidup perusahaan.

Dalam sebuah buku Manajemen Sumber Daya Manusia yang ditulis oleh Panggabean (2004), kompetensi seorang karyawan bukan satu-satunya aspek yang harus diperhatikan. Masih ada sikap kerja yang juga membuat mereka mau dan bersedia memberikan sebagian tenaga untuk perusahaan. sikap kerja merupakan hasil penilaian atau evaluasi terhadap orang-orang, kejadian-kejadian di tempat kerja.

Salah satu konsep yang paling sering diperhatikan adalah kepuasan kerja. Berbagai macam perlakuan yang diberikan pada karyawan atau pekerja hanya akan efektif bila mereka merasa puas pada pekerjaannya. Kepuasan dalam pekerjaan dapat mereka rasakan apabila mereka merasakan adanya keselarasan antara apa yang diharapkan dengan apa yang dapat diperoleh, atau antara kebutuhan dan penghargaan.

Spector (1997) dalam bukunya Job Satisfaction: Application, Assessment, Causes, and Consequences, kepuasan kerja adalah perasaan seseorang terhadap pekerjaan mereka dan perbedaan aspek pada pekerjaannya. Ini lebih pada apakah orang tersebut suka atau tidak suka pada pekerjaanya. Dalam pengukuran umum, kepuasan kerja adalah variabel sikap. Pada beberapa waktu lalu pemahaman kepuasan kerja lebih pada asas kebutuhan, misalnya gaji sebagai bentuk pemenuhan atas kebutuhan dasar secara fisik. Pada saat ini banyak pendekatan yang lebih fokus pada perhatian proses kognitif dibandingkan pada asas kebutuhan. Perspektif sikap telah menjadi salah satu yang mendominasi pemahaman tentang kepuasan kerja.

Sebuah malapetaka bila kepuasan kerja diabaikan oleh pihak manajemen, maka dampaknya dapat mengganggu performa kerja, seperti kebosanan, malas, gangguan fisik, kecemasan, depresi, dan perilaku kontraproduktif. Hal ini diketahui melalui sebuah penelitian oleh Ranz, Stueve dan McQuistion (2001) dalam jurnalnya yang berjudul The Role of the Psychiatrist: Job Satisfaction of Medical Directors and Staff Psychiatrists.

Pertanyaan yang penting adalah bagaimana menciptakan kepuasan kerja? Menurut Saba (2011) dalam jurnal International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, kepuasan kerja dapat terjadi dalam sebuah iklim yang sehat dan positif. Iklim yang positif tidak hanya meningkatkan kepuasan kerja tetapi juga produktifitas kerja. Perlu digarisbawahi bahwa manager, human resource specialists, supervisor dan pekerja harus mampu mengeksplorasi bagaimana kepuasan kerja dapat ditingkatkan. Salah satu aspek meningkatkan kepuasan kerja bukan hanya soal uang, namun kondisi tempat karyawan bekerja juga menentukan kepuasan mereka.

Rabu, 18 Juli 2012

Gerakan Mata Bukan Indikator Seseorang Bohong Atau Tidak ^_^

Banyak orang mengira kebohongan mudah diketahui hanya dengan melihat gerakan bola mata. Pasalnya gerakan mata seseorang juga dapat dimanipulasi oleh diri mereka sendiri.
Sebuah penelitian telah dilakukan oleh peneliti kebangsaan Inggris dan Kanada mengatakan, tidak ada hubungan antara gerakan bola mata ke kanan dan ke atas dengan tanda-tanda seseorang sedang berbohong.

Begitu juga sebaliknya, gerakan bola mata ke kiri dan ke atas sebagai tanda seseorang jujur tidak terbukti.

Psikolog dari Universitas Edinburgh, Caroline Watt, PhD yang menjadi peneliti dalam studi ini mengatakan, “Sebagian besar masyarakat percaya bahwa gerakan mata tertentu adalah tanda berbohong, dan ide ini bahkan diajarkan di kursus pelatihan organisasi,” ungkap Watt.

Ia menambahkan, penelitian mereka bukan memberikan dukungan dan sebagainya, penelitian ini justru memberikan petunjuk untuk kembali melihat kebenaran dari deteksi semacam ini.

Penelitian ini dilakukan dalam tiga bagian, studi pertama dengan 32 partisipasi yang mayoritas adalah mahasiswa. Mereka diperintahkan untuk menyembunyikan ponsel di tempat tertentu. Masing-masing di wawancara untuk mengetahui siapa yang berkata jujur dan tidak.

Setiap peserta akan direkam untuk mengetahui gerakan bola mata dan tatapan mereka saat diwawancara.

Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara gerakan bola mata mereka dengan kebenaran atau kebohongan yang diungkapkan.

Namun, gerakan tersebut tidak bisa diketahui hanya dari hitungan gerakan bola mata, mungkin butuh seseorang yang sangat terlatih untuk melihat gerakan halus.

Hal yang sama terbukti melalui penelitian ke dua, pada studi ini para peneliti menunjuk 50 orang untuk dilatih membaca gerakan bola mata. Mereka ditunjukkan pada sebuah video pada penelitian pertama untuk mendeteksi kebohongan.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, gerakan mata tidak dapat menjadi acuan seseorang itu berbohong atau tidak.

“Hasil penelitian ini menjelaskan alasan yang cukup bahwa gerakan bola mata adalah indikator yang buruk untuk deteksi kebohongan,” kata Watt.

Bayi Pun Mengerti Konsep Keadilan ...


“Itu tidak adil!” Mungkin ini adalah kalimat keluhan anak-anak. Bagaimana awalnya anak-anak dapat merasakan keadilan? Sebuah hasil penelitian baru telah menjawab pertanyaan ini.

“Kami menemukan bahwa usia 19 dan 21 bulan, bayi sudah memiliki harapan umum dari konsep keadilan, dan mereka dapat menerapkannya dengan tepat dalam situasi yang berbeda,” kata Stephanie Sloane, mahasiswa pascasarjana psikologi dari University of Illinois, dikutip dari Science Daily.

Penelitian ini dilakukan oleh Sloane melakukan penelitian bersama dengan Renée Baillargeon dan David Premack dari University of Pennsylvania, dipublikasikan oleh jurnal Psychological Science dari Association for Psychological Science.

Penelitian ini melakukan uji eksperimen pada empat bayi usia 19 bulan. Peneliti kemudian membawa kereta mainan dan berkata, “Saya punya mainan! Yay!”. Kemudian ia memberikan semua mainan tersebut pada satu bayi. Tiga bayi lainnya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang aneh. Mereka melihat ke arah satu bayi yang mendapatkan mainan dengan sangat lama hingga kemudian mereka kehilangan minat.

Ekpersimen kedua dilakukan pada dua bayi perempuan usia 21 bulan. Mereka dihadapkan dengan dua keranjang dan mainan yang berserakan. Peneliti kemudian hadir dan berkata “Wow Lihatlah semua mainan! Sudah waktunya untuk membersihkan mereka.” Salah satu dari bayi tersebut kemudian memasukkan mainan ke dalam keranjang dan satu lagi tetap asyik bermain.

Peneliti kemudian memberikan hadiah pada masing-masing bayi, baik yang membersihkan maupun yang tetap bermain. Dalam skenario selanjutnya, ketika mereka berdua disuruh membersikan mainan, kedua bayi tersebut langsung mengambil hadiah tanpa ada yang membersihkan.

“Kami berpikir anak-anak dilahirkan dengan kerangka harapan umum tentang keadilan,” jelas Sloane.

Penerapan dan konsep keadilan sangat tergantung pada budaya dan lingkungan dimana bayi mereka dibesarkan. Beberapa budaya sangat menjunjung tinggi konsep berbagi lebih dari budaya lain, tetapi konsep dasar bahwa keadilan harus merata dan dialokasikan sesuai dengan usaha adalah bawaan dan universal. Hal ini diungkapkan oleh Sloane lebih lanjut.

Selain keadilan, penelitian telah menunjukkan pada kita bahwa anak-anak kecil juga memiliki harapan untuk tidak merugikan orang lain dan membantu orang lain dalam kesulitan.

Senin, 16 Juli 2012

Bagaimana Otak Bereaksi Pada Kesalahan Dan Semua Tergantung Pola Pikir Anda ...

Bagaimana otak bereaksi pada kesalahan adalah tergantung pola pikir anda. Apakah Anda pernah berpikir Anda bisa atau berpikir Anda tidak bisa? Itu adalah salah satu bukti perbedaan manusia dalam berpikir. Sebuah penelitian baru dari Henry Ford dan akan diterbitkan dalam edisi mendatang di Psychological Science, sebuah jurnal Asosiasi untuk Psychological Science dikutip dari Science Daily, menemukan bahwa orang yang berpikir mereka bisa belajar dari kesalahan, memiliki reaksi otak yang berbeda dibandingkan orang yang berpikir bahwa inteligensi itu bersifat tetap.

Jason S. Moser, dari Michigan State University, yang berkolaborasi pada studi baru dengan Hans S. Schroder, Carrie Heeter, Tim P. Moran, dan Yu-Hao Lee mengatakan, salah satu perbedaan besar antara orang yang berpikir inteligensi itu bersifat fleksibel dibandingkan orang yang berpikir inteligensi itu bersifat tetap adalah bagaimana mereka menanggapi sebuah kesalahan.

Penelitian ini menemukan bahwa orang yang berpikir bahwa kecerdasan itu bersifat fleksibel cenderung untuk mengatakan “Jika saya membuat kesalahan, saya mencoba untuk belajar dan mencari tahu.” Di sisi lain, orang yang berpikir bahwa kecerdasan itu bersifat tetap, maka mereka tidak akan mengambil kesempatan untuk belajar dari kesalahan mereka.

Ini bisa menjadi masalah yang serius pada siswa dalam belajar. Ketika siswa berpikir kecerdasan adalah tetap, maka ia akan berpikir tidak perlu repot-repot berusaha lebih keras, setelah ia gagal tes.

Penelitian ini dilakukan pada sejumlah orang dan diberikan tugas. Tugas ini adalah pekerjaan dimana mereka akan mudah berbuat kesalahan. Mereka diperintahkan untuk membuat susunan surat-surat berdasarkan urutan tertentu. Saat mereka membuat kesalahan, mereka mengalaminya secara langsung dan merasa bodoh.

Ketika melakukan tugas tersebut, mereka memakai sebuah topi yang dapat mencatat aktifitas listrik di otak. Ketika seseorang membuat kesalahan, otak mereka membuat dua sinyal cepat: pertama adalah respon awal yang menunjukkan ada sesuatu yang keliru dan membiarkan, respon kedua menunjukkan bahwa orang tersebut secara sadar menyadari kesalahan dan berusaha memperbaiki. Kedua sinyal terjadi dalam seperempat detik ketika kesalahan terjadi. Setelah percobaan, para peneliti ingin mengetahui apakah orang-orang ini percaya bahwa mereka bisa belajar dari kesalahan mereka atau tidak.

Orang yang berpikir mereka bisa belajar dari kesalahan, mereka berhasil bangkit kembali setelah kesalahan terjadi. Otak mereka juga bereaksi berbeda, menghasilkan sinyal kedua yang lebih besar. Salah satu subjek mengatakan, “saya melihat bahwa saya telah membuat kesalahan, jadi saya harus lebih memperhatikan”.

Hal ini dapat membantu kita memahami mengapa dua tipe orang dengan pemikiran di atas, menunjukkan perilaku berbeda setelah mereka berbuat kesalahan. Orang yang berpikir mereka bisa belajar dari kesalahan, memiliki otak yang diatur untuk lebih memperhatikan kesalahan, bahwa kecerdasan itu bersifat fleksibel dan terus berkembang. Penelitian ini bisa membantu dalam melatih orang untuk percaya bahwa mereka dapat bekerja lebih keras dan belajar lebih banyak. Penelitian ini menunjukkannya dengan bagaimana otak memiliki reaksi berbeda terhadap kesalahan.

Merasa Sulit, Itu Biasa ...

Perancis, Siswa dapat melakukan segala sesuatu lebih baik dan lebih percaya diri di sekolah, bila mereka diberitahu bahwa kesulitan adalah sesuatu yang lumrah dari proses belajar. Sebaliknya, bukan semakin menekan anak untuk berhasil dan mendapatkan nilai bagus.

Pernyataan tersebut merupakan hasil penelitian baru yang diterbitkan pada 5 July kemarin oleh American Psychological Association dalam Journal of Experimental Psychology: General, oleh Frederique Autin, PhD.

“Terlalu terobsesi dengan kesuksesan, siswa akan takut gagal, mereka enggan mengambil langkah-langkah sulit untuk menguasai materi baru. Mengakui bahwa kesulitan adalah bagian dari belajar, bisa menghentikan lingkaran setan,” kata Frederique Autin, PhD, seorang peneliti di University of Poitiers, Perancis.

Kesulitan banyak dipandang sebagai momok oleh kebanyakan siswa, apalagi bila mereka dituntut untuk berhasil. Pemahaman ini justru menciptakan rasa ketidakmampuan diri ketika dihadapkan dengan kesulitan, yang pada gilirannya mengganggu proses belajar.

“Penelitian ini dapat mencerahkan bagi guru, orang tua dan siswa. Orang biasanya percaya bahwa prestasi akademik hanya mencerminkan kemampuan akademik siswa, tapi guru dan orang tua mungkin dapat membantu siswa berhasil hanya dengan mengubah cara pandang mereka,” kata Jean-Claude Croizet, PhD, seorang Profesor Psikologi di University of Poitiers yang mengawasi penelitian ini.

Seperti halnya menaiki sepeda, anak akan terus mencoba untuk bisa bersepeda, karena mereka tahu, jatuh saat bersepeda merupakan hal yang biasa dalam proses bisa bersepeda. Perlakuan yang sama perlu diterapkan dalam proses belajar di lingkungan akademik.

Ekperimen yang dilakukan oleh Autin menyebutkan, siswa yang diberitahu bahwa kesulitan dan kegagalan adalah hal biasa, secara signifikan lebih baik dalam mengerjakan tes dan aktif berdiskusi bersama peneliti, dibandingkan dengan kelompok siswa lain yang tidak memahami hal itu.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan anak meningkat hanya dengan meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi ketakutan siswa terhadap kegagalan.

“Para guru dan orang tua harus menekankan proses kemajuan anak dari pada fokus pada nilai dan skor tes. Belajar membutuhkan waktu dan setiap langkah dalam proses tersebut harus dihargai, terutama pada tahap awal belajar, ketika kemungkinan besar mereka akan mengalami kegagalan,” tutup Autin.

Stres Rentan Bagi Perkembangan Otak Remaja ...

New York, Stres kadang ditemui pada kebanyakan remaja. Stres yang mereka alami masih terkait dengan proses tumbuh menjadi dewasa. Namun, stres yang masuk dalam kategori kronis dapat berbahaya bagi perkembangan otak remaja.

Studi baru yang diterbitkan dalam edisi Neuron bulan ini, dilakukan oleh Zhen Yan, PhD, Profesor di Department of Physiology and Biophysics, UB School of Medicine and Biomedical Sciences.

“Kami telah mengidentifikasi hubungan sebab akibat antara molekul dan perilaku yang terlibat dalam respons stres,” ungkap Yan, dikutip dari MNT.

Masa remaja adalah saat otak sangat rentan terhadap stres. Korteks prefrontal belum sepenuhnya berkembang sampai usia 25 tahun, dan mengalami perubahan dramatis selama tahun-tahun remaja. Korteks prefrontal itu seperti sebuah pusat kontrol yang mengendalikan memori, pengambilan keputusan dan atensi.

Bila stres terjadi berulang-ulang maka akan menyebabkan penurunan pada ketiga kemampuan tersebut. Oleh sebab itu, penting bagi remaja mencaritahu hal-hal apa saja yang bisa dilakukannya untuk mengurangi stres, sehingga mencegah terjadinya stres kronis dan membantu melindungi otaknya.

Disfungsi pada korteks prefrontal juga diketahui terlibat dalam stres, terutama yang berhubungan dengan penyakit mental. Hal ini diketahui setelah berhasil mengidentifikasi bagaimana stres mempengaruhi penyakit mental lainnya.

“Karena disfungsi pada korteks prefrontal disebabkan oleh stres, maka penyakit mental yang berhubungan dengan stres akan lebih mudah diungkap dengan memahami korteks prefrontal,” ujar Yan.

Berdasarkan penelitian ini, Yan dan tim bisa mulai menargetkan cara yang lebih spesifik dan efektif dalam mengembangkan obat yang lebih baik untuk penyakit mental serius.

Rabu, 27 Juni 2012

Membesarkan Anak, Orang Tua Justru Lebih Bahagia ...


Sebagian besar pasangan suami istri menganggap bahwa memiliki seorang anak adalah pekerjaan yang sangat melelahkan dan berat. Namun, sebuah penelitian mengatakan, justru menjadi orang tua dan memiliki anak lebih membahagiakan dibandingkan pasangan yang belum dikaruniai buah hati.
Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Psychological Science yang dilakukan oleh tiga universitas yaitu University of British Columbia, University of California dan Stanford University.
Walaupun membutuhkan tanggung jawab yang besar, memiliki anak juga lebih banyak manfaat. Hasil studi mengatakan, orang tua akan lebih bahagia saat mereka mengasuh anak-anaknya dibandingkan aktivitas lainnya. Temuan ini nampaknya lebih konsisten pada pria yang lebih tua.
“Serangkaian studi ini menunjukkan bahwa orantua bukanlah ‘makhluk yang menyedihkan’ seperti yang kita kira selama ini,” ujar psikolog dari University of British Columbia dan peneliti dari studi ini, Prof. Elizabeth Dunn.
“Jika Anda menghadiri sebuah pesta makan malam yang besar, temuan kami menunjukkan bahwa orangtua yang ada di dalam ruangan itu akan sama bahagianya atau lebih bahagia daripada tamu-tamu yang tidak memiliki anak” ungkapnya.
Dalam penelitian ini, para peneliti ingin mengetahui apakah orang tua lebih bahagia dari pada orang tua lain yang belum memiliki anak; apakah mereka mempunyai momen dalam hidup yang lebih baik dari pada pasangan yang belum memiliki anak; dan apakah mereka memiliki perasaan positif yang lebih besar saat mengasuh anak mereka dibandingkan aktivitas lain.
Temuan ini sekaligus membantah apa yang biasa dipercayai banyak orang, bahwa anak-anak sering dihubungkan dengan penurunan kesejahteraan dalam sebuah keluarga.
Studi tersebut mengidentifikasi usia dan status pernikahan sebagai faktor kebahagiaan orang tua.
“Kami menemukan bahwa jika usia Anda lebih tua (dan diasumsikan lebih dewasa) dan menikah (dan diasumsikan memiliki dukungan sosial dan finansial yang memadai) maka Anda cenderung hidup lebih bahagia jika Anda memiliki anak dibandingkan rekan-rekan Anda yang tidak memilikinya,” ujar peneliti lainnya, Sonja Lyubomirsky dari University of California, Riverside.
Hasil penelitian ini tidak berlaku bagi mereka yang menjadi orang tua tunggal atau orang tua yang masih sangat muda. Tekanan yang biasa dihubungkan dengan kondisi orang tua tunggal tidak menghapus perasaan positif mereka saat memiliki anak.
“Kami menegaskan bahwa menjadi orangtua tidak membuat semua orang bahagia, namun peran itu bisa dikaitkan dengan kebahagiaan dan arti hidup yang lebih besar,” tegas Lyubomirsky.