Rabu, 18 Juli 2012

Gerakan Mata Bukan Indikator Seseorang Bohong Atau Tidak ^_^

Banyak orang mengira kebohongan mudah diketahui hanya dengan melihat gerakan bola mata. Pasalnya gerakan mata seseorang juga dapat dimanipulasi oleh diri mereka sendiri.
Sebuah penelitian telah dilakukan oleh peneliti kebangsaan Inggris dan Kanada mengatakan, tidak ada hubungan antara gerakan bola mata ke kanan dan ke atas dengan tanda-tanda seseorang sedang berbohong.

Begitu juga sebaliknya, gerakan bola mata ke kiri dan ke atas sebagai tanda seseorang jujur tidak terbukti.

Psikolog dari Universitas Edinburgh, Caroline Watt, PhD yang menjadi peneliti dalam studi ini mengatakan, “Sebagian besar masyarakat percaya bahwa gerakan mata tertentu adalah tanda berbohong, dan ide ini bahkan diajarkan di kursus pelatihan organisasi,” ungkap Watt.

Ia menambahkan, penelitian mereka bukan memberikan dukungan dan sebagainya, penelitian ini justru memberikan petunjuk untuk kembali melihat kebenaran dari deteksi semacam ini.

Penelitian ini dilakukan dalam tiga bagian, studi pertama dengan 32 partisipasi yang mayoritas adalah mahasiswa. Mereka diperintahkan untuk menyembunyikan ponsel di tempat tertentu. Masing-masing di wawancara untuk mengetahui siapa yang berkata jujur dan tidak.

Setiap peserta akan direkam untuk mengetahui gerakan bola mata dan tatapan mereka saat diwawancara.

Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara gerakan bola mata mereka dengan kebenaran atau kebohongan yang diungkapkan.

Namun, gerakan tersebut tidak bisa diketahui hanya dari hitungan gerakan bola mata, mungkin butuh seseorang yang sangat terlatih untuk melihat gerakan halus.

Hal yang sama terbukti melalui penelitian ke dua, pada studi ini para peneliti menunjuk 50 orang untuk dilatih membaca gerakan bola mata. Mereka ditunjukkan pada sebuah video pada penelitian pertama untuk mendeteksi kebohongan.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, gerakan mata tidak dapat menjadi acuan seseorang itu berbohong atau tidak.

“Hasil penelitian ini menjelaskan alasan yang cukup bahwa gerakan bola mata adalah indikator yang buruk untuk deteksi kebohongan,” kata Watt.

Bayi Pun Mengerti Konsep Keadilan ...


“Itu tidak adil!” Mungkin ini adalah kalimat keluhan anak-anak. Bagaimana awalnya anak-anak dapat merasakan keadilan? Sebuah hasil penelitian baru telah menjawab pertanyaan ini.

“Kami menemukan bahwa usia 19 dan 21 bulan, bayi sudah memiliki harapan umum dari konsep keadilan, dan mereka dapat menerapkannya dengan tepat dalam situasi yang berbeda,” kata Stephanie Sloane, mahasiswa pascasarjana psikologi dari University of Illinois, dikutip dari Science Daily.

Penelitian ini dilakukan oleh Sloane melakukan penelitian bersama dengan Renée Baillargeon dan David Premack dari University of Pennsylvania, dipublikasikan oleh jurnal Psychological Science dari Association for Psychological Science.

Penelitian ini melakukan uji eksperimen pada empat bayi usia 19 bulan. Peneliti kemudian membawa kereta mainan dan berkata, “Saya punya mainan! Yay!”. Kemudian ia memberikan semua mainan tersebut pada satu bayi. Tiga bayi lainnya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang aneh. Mereka melihat ke arah satu bayi yang mendapatkan mainan dengan sangat lama hingga kemudian mereka kehilangan minat.

Ekpersimen kedua dilakukan pada dua bayi perempuan usia 21 bulan. Mereka dihadapkan dengan dua keranjang dan mainan yang berserakan. Peneliti kemudian hadir dan berkata “Wow Lihatlah semua mainan! Sudah waktunya untuk membersihkan mereka.” Salah satu dari bayi tersebut kemudian memasukkan mainan ke dalam keranjang dan satu lagi tetap asyik bermain.

Peneliti kemudian memberikan hadiah pada masing-masing bayi, baik yang membersihkan maupun yang tetap bermain. Dalam skenario selanjutnya, ketika mereka berdua disuruh membersikan mainan, kedua bayi tersebut langsung mengambil hadiah tanpa ada yang membersihkan.

“Kami berpikir anak-anak dilahirkan dengan kerangka harapan umum tentang keadilan,” jelas Sloane.

Penerapan dan konsep keadilan sangat tergantung pada budaya dan lingkungan dimana bayi mereka dibesarkan. Beberapa budaya sangat menjunjung tinggi konsep berbagi lebih dari budaya lain, tetapi konsep dasar bahwa keadilan harus merata dan dialokasikan sesuai dengan usaha adalah bawaan dan universal. Hal ini diungkapkan oleh Sloane lebih lanjut.

Selain keadilan, penelitian telah menunjukkan pada kita bahwa anak-anak kecil juga memiliki harapan untuk tidak merugikan orang lain dan membantu orang lain dalam kesulitan.

Senin, 16 Juli 2012

Bagaimana Otak Bereaksi Pada Kesalahan Dan Semua Tergantung Pola Pikir Anda ...

Bagaimana otak bereaksi pada kesalahan adalah tergantung pola pikir anda. Apakah Anda pernah berpikir Anda bisa atau berpikir Anda tidak bisa? Itu adalah salah satu bukti perbedaan manusia dalam berpikir. Sebuah penelitian baru dari Henry Ford dan akan diterbitkan dalam edisi mendatang di Psychological Science, sebuah jurnal Asosiasi untuk Psychological Science dikutip dari Science Daily, menemukan bahwa orang yang berpikir mereka bisa belajar dari kesalahan, memiliki reaksi otak yang berbeda dibandingkan orang yang berpikir bahwa inteligensi itu bersifat tetap.

Jason S. Moser, dari Michigan State University, yang berkolaborasi pada studi baru dengan Hans S. Schroder, Carrie Heeter, Tim P. Moran, dan Yu-Hao Lee mengatakan, salah satu perbedaan besar antara orang yang berpikir inteligensi itu bersifat fleksibel dibandingkan orang yang berpikir inteligensi itu bersifat tetap adalah bagaimana mereka menanggapi sebuah kesalahan.

Penelitian ini menemukan bahwa orang yang berpikir bahwa kecerdasan itu bersifat fleksibel cenderung untuk mengatakan “Jika saya membuat kesalahan, saya mencoba untuk belajar dan mencari tahu.” Di sisi lain, orang yang berpikir bahwa kecerdasan itu bersifat tetap, maka mereka tidak akan mengambil kesempatan untuk belajar dari kesalahan mereka.

Ini bisa menjadi masalah yang serius pada siswa dalam belajar. Ketika siswa berpikir kecerdasan adalah tetap, maka ia akan berpikir tidak perlu repot-repot berusaha lebih keras, setelah ia gagal tes.

Penelitian ini dilakukan pada sejumlah orang dan diberikan tugas. Tugas ini adalah pekerjaan dimana mereka akan mudah berbuat kesalahan. Mereka diperintahkan untuk membuat susunan surat-surat berdasarkan urutan tertentu. Saat mereka membuat kesalahan, mereka mengalaminya secara langsung dan merasa bodoh.

Ketika melakukan tugas tersebut, mereka memakai sebuah topi yang dapat mencatat aktifitas listrik di otak. Ketika seseorang membuat kesalahan, otak mereka membuat dua sinyal cepat: pertama adalah respon awal yang menunjukkan ada sesuatu yang keliru dan membiarkan, respon kedua menunjukkan bahwa orang tersebut secara sadar menyadari kesalahan dan berusaha memperbaiki. Kedua sinyal terjadi dalam seperempat detik ketika kesalahan terjadi. Setelah percobaan, para peneliti ingin mengetahui apakah orang-orang ini percaya bahwa mereka bisa belajar dari kesalahan mereka atau tidak.

Orang yang berpikir mereka bisa belajar dari kesalahan, mereka berhasil bangkit kembali setelah kesalahan terjadi. Otak mereka juga bereaksi berbeda, menghasilkan sinyal kedua yang lebih besar. Salah satu subjek mengatakan, “saya melihat bahwa saya telah membuat kesalahan, jadi saya harus lebih memperhatikan”.

Hal ini dapat membantu kita memahami mengapa dua tipe orang dengan pemikiran di atas, menunjukkan perilaku berbeda setelah mereka berbuat kesalahan. Orang yang berpikir mereka bisa belajar dari kesalahan, memiliki otak yang diatur untuk lebih memperhatikan kesalahan, bahwa kecerdasan itu bersifat fleksibel dan terus berkembang. Penelitian ini bisa membantu dalam melatih orang untuk percaya bahwa mereka dapat bekerja lebih keras dan belajar lebih banyak. Penelitian ini menunjukkannya dengan bagaimana otak memiliki reaksi berbeda terhadap kesalahan.

Merasa Sulit, Itu Biasa ...

Perancis, Siswa dapat melakukan segala sesuatu lebih baik dan lebih percaya diri di sekolah, bila mereka diberitahu bahwa kesulitan adalah sesuatu yang lumrah dari proses belajar. Sebaliknya, bukan semakin menekan anak untuk berhasil dan mendapatkan nilai bagus.

Pernyataan tersebut merupakan hasil penelitian baru yang diterbitkan pada 5 July kemarin oleh American Psychological Association dalam Journal of Experimental Psychology: General, oleh Frederique Autin, PhD.

“Terlalu terobsesi dengan kesuksesan, siswa akan takut gagal, mereka enggan mengambil langkah-langkah sulit untuk menguasai materi baru. Mengakui bahwa kesulitan adalah bagian dari belajar, bisa menghentikan lingkaran setan,” kata Frederique Autin, PhD, seorang peneliti di University of Poitiers, Perancis.

Kesulitan banyak dipandang sebagai momok oleh kebanyakan siswa, apalagi bila mereka dituntut untuk berhasil. Pemahaman ini justru menciptakan rasa ketidakmampuan diri ketika dihadapkan dengan kesulitan, yang pada gilirannya mengganggu proses belajar.

“Penelitian ini dapat mencerahkan bagi guru, orang tua dan siswa. Orang biasanya percaya bahwa prestasi akademik hanya mencerminkan kemampuan akademik siswa, tapi guru dan orang tua mungkin dapat membantu siswa berhasil hanya dengan mengubah cara pandang mereka,” kata Jean-Claude Croizet, PhD, seorang Profesor Psikologi di University of Poitiers yang mengawasi penelitian ini.

Seperti halnya menaiki sepeda, anak akan terus mencoba untuk bisa bersepeda, karena mereka tahu, jatuh saat bersepeda merupakan hal yang biasa dalam proses bisa bersepeda. Perlakuan yang sama perlu diterapkan dalam proses belajar di lingkungan akademik.

Ekperimen yang dilakukan oleh Autin menyebutkan, siswa yang diberitahu bahwa kesulitan dan kegagalan adalah hal biasa, secara signifikan lebih baik dalam mengerjakan tes dan aktif berdiskusi bersama peneliti, dibandingkan dengan kelompok siswa lain yang tidak memahami hal itu.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan anak meningkat hanya dengan meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi ketakutan siswa terhadap kegagalan.

“Para guru dan orang tua harus menekankan proses kemajuan anak dari pada fokus pada nilai dan skor tes. Belajar membutuhkan waktu dan setiap langkah dalam proses tersebut harus dihargai, terutama pada tahap awal belajar, ketika kemungkinan besar mereka akan mengalami kegagalan,” tutup Autin.

Stres Rentan Bagi Perkembangan Otak Remaja ...

New York, Stres kadang ditemui pada kebanyakan remaja. Stres yang mereka alami masih terkait dengan proses tumbuh menjadi dewasa. Namun, stres yang masuk dalam kategori kronis dapat berbahaya bagi perkembangan otak remaja.

Studi baru yang diterbitkan dalam edisi Neuron bulan ini, dilakukan oleh Zhen Yan, PhD, Profesor di Department of Physiology and Biophysics, UB School of Medicine and Biomedical Sciences.

“Kami telah mengidentifikasi hubungan sebab akibat antara molekul dan perilaku yang terlibat dalam respons stres,” ungkap Yan, dikutip dari MNT.

Masa remaja adalah saat otak sangat rentan terhadap stres. Korteks prefrontal belum sepenuhnya berkembang sampai usia 25 tahun, dan mengalami perubahan dramatis selama tahun-tahun remaja. Korteks prefrontal itu seperti sebuah pusat kontrol yang mengendalikan memori, pengambilan keputusan dan atensi.

Bila stres terjadi berulang-ulang maka akan menyebabkan penurunan pada ketiga kemampuan tersebut. Oleh sebab itu, penting bagi remaja mencaritahu hal-hal apa saja yang bisa dilakukannya untuk mengurangi stres, sehingga mencegah terjadinya stres kronis dan membantu melindungi otaknya.

Disfungsi pada korteks prefrontal juga diketahui terlibat dalam stres, terutama yang berhubungan dengan penyakit mental. Hal ini diketahui setelah berhasil mengidentifikasi bagaimana stres mempengaruhi penyakit mental lainnya.

“Karena disfungsi pada korteks prefrontal disebabkan oleh stres, maka penyakit mental yang berhubungan dengan stres akan lebih mudah diungkap dengan memahami korteks prefrontal,” ujar Yan.

Berdasarkan penelitian ini, Yan dan tim bisa mulai menargetkan cara yang lebih spesifik dan efektif dalam mengembangkan obat yang lebih baik untuk penyakit mental serius.

Rabu, 27 Juni 2012

Membesarkan Anak, Orang Tua Justru Lebih Bahagia ...


Sebagian besar pasangan suami istri menganggap bahwa memiliki seorang anak adalah pekerjaan yang sangat melelahkan dan berat. Namun, sebuah penelitian mengatakan, justru menjadi orang tua dan memiliki anak lebih membahagiakan dibandingkan pasangan yang belum dikaruniai buah hati.
Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Psychological Science yang dilakukan oleh tiga universitas yaitu University of British Columbia, University of California dan Stanford University.
Walaupun membutuhkan tanggung jawab yang besar, memiliki anak juga lebih banyak manfaat. Hasil studi mengatakan, orang tua akan lebih bahagia saat mereka mengasuh anak-anaknya dibandingkan aktivitas lainnya. Temuan ini nampaknya lebih konsisten pada pria yang lebih tua.
“Serangkaian studi ini menunjukkan bahwa orantua bukanlah ‘makhluk yang menyedihkan’ seperti yang kita kira selama ini,” ujar psikolog dari University of British Columbia dan peneliti dari studi ini, Prof. Elizabeth Dunn.
“Jika Anda menghadiri sebuah pesta makan malam yang besar, temuan kami menunjukkan bahwa orangtua yang ada di dalam ruangan itu akan sama bahagianya atau lebih bahagia daripada tamu-tamu yang tidak memiliki anak” ungkapnya.
Dalam penelitian ini, para peneliti ingin mengetahui apakah orang tua lebih bahagia dari pada orang tua lain yang belum memiliki anak; apakah mereka mempunyai momen dalam hidup yang lebih baik dari pada pasangan yang belum memiliki anak; dan apakah mereka memiliki perasaan positif yang lebih besar saat mengasuh anak mereka dibandingkan aktivitas lain.
Temuan ini sekaligus membantah apa yang biasa dipercayai banyak orang, bahwa anak-anak sering dihubungkan dengan penurunan kesejahteraan dalam sebuah keluarga.
Studi tersebut mengidentifikasi usia dan status pernikahan sebagai faktor kebahagiaan orang tua.
“Kami menemukan bahwa jika usia Anda lebih tua (dan diasumsikan lebih dewasa) dan menikah (dan diasumsikan memiliki dukungan sosial dan finansial yang memadai) maka Anda cenderung hidup lebih bahagia jika Anda memiliki anak dibandingkan rekan-rekan Anda yang tidak memilikinya,” ujar peneliti lainnya, Sonja Lyubomirsky dari University of California, Riverside.
Hasil penelitian ini tidak berlaku bagi mereka yang menjadi orang tua tunggal atau orang tua yang masih sangat muda. Tekanan yang biasa dihubungkan dengan kondisi orang tua tunggal tidak menghapus perasaan positif mereka saat memiliki anak.
“Kami menegaskan bahwa menjadi orangtua tidak membuat semua orang bahagia, namun peran itu bisa dikaitkan dengan kebahagiaan dan arti hidup yang lebih besar,” tegas Lyubomirsky.